Terkait Aksi Sodomi di Pesantren Al-Ikhwan, P2TP2A Langkat Minta Tersangka di Hukum Kebiri

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Terkait Aksi Sodomi di Pesantren Al-Ikhwan, P2TP2A Langkat Minta Tersangka di Hukum Kebiri

Wednesday, March 13, 2019


Foto Ernis Safrin Lubis, Kordinator P2TP2A Langkat

Padang Tualang-MLB.COM

Cerita pilu dunia pendidikan di kabupaten Langkat kembali tercoreng. Kali ini para santri yang menuntut ilmu di Pondok pasantren (Ponpes) Al-Ikhwan yang berada di Dusun II Desa Serapuh ABC, Kecamatan padang Tualang, Kabupaten Langkat, menjadi korban sodomi dan pelecehan seksual.

Perbuatan bejat dan tidak senonoh ini di lakukan oleh Dedi Suwandi.S.Ag,MPdi, yang tak lain merupakan Kepala Yayasan yang juga kepala Ponpes Al-Ikhwan, dimana saat ini dirinya sudah di amankan di Polres Langkat guna menjalani proses hukum atas perbuatannya.

Menindak lanjuti  kejadian ini, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Langkat, Rabu (13/3/19) siang, mendatangi Ponpes Al-Ikhwan, dimana maksud kedatangan ini ingin berjumpa dengan pengurus Yayasan.

Namun sangat di sayangkan, pengurus yayasan Ponpes Al-Ikhwan tidak dapat ditemui, bahkan pintu ruang kantor/guru terlihat sunyi dan terkunci, hanya ada beberapa guru yang bercerita dengan nada pelan di ruang tunggu/pendopo tamu di halaman Ponpes.

Ernis Safrin Lubis, Kordinator P2TP2A saat di temui MLB.com di halaman Ponpes Al-Ikhwan, berjanji akan menindaklanjuti masalah ini, namun yang utama pihaknya akan melakukan Trauma Healing kepada anak-anak, sampai sejauh mana trauma yang dialami, dan apa yang di butuhkan sehingga kita mengetahui apa yang di butuhkan mereka.

"Jadi kita akan memperbaiki mental mereka dan melihat perkembangan anak-anak pasca kejadian ini, dan kita bekerja sama dengan pihak sekolah, baik perorangan maupun global, kewajiban kita di dalam undang-undang untuk melakukan itu, karena itu sangat penting baik secara fisikis maupun secara fisikologis anak," kata Ernis.

Kalau untuk pelaku, sambung Ernis, kita minta kepada Pemerintah dan penyidik untuk menerapkan UU No 17  tahun 2016, karena ini korbannya luar biasa, kita minta terjadinya hukum kebiri untuk di berlakukan dalam kasus ini.

Disinggung soal jumlah korban? Anis menjawab, untuk korban secara pasti pihaknya belum mengetahui pasti.

"Karena korban belum kita cek, namun korban lebih dari 10 dan ini sudah sangat luar biasa," pungkasnya.

Sementara saat ditanya, apakah perlu diambil langkah hukum untuk memeriksa kejiwaan pelaku, Ernis mengatakan hal tersebut memang harus dilakukan.

"Nanti penyidik pasti mengarah kesitu, kita juga minta penerapan hukum kebiri tersebut," jawabnya.

Pada kesempatan itu, dirinya juga berpesan kepada orang tua murid untuk tetap bersabar.

"Kita lihat sampai sejauh mana trauma yang di alami anak-anak dan nanti kita akan turun lagi melihat perkembangan fsikologis anak bersama Depag," ucap Ernis Safrin Lubis, Kordinator P2TP2A. (Bud)
close