Brandan Bumi Hangus Tonggak Sejarah Perjuangan Bangsa, Azhar Kasim : JAS MERAH

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Brandan Bumi Hangus Tonggak Sejarah Perjuangan Bangsa, Azhar Kasim : JAS MERAH

Tuesday, August 13, 2019



Lapangan Sepak Bola Petrolia terlihat sepi dalam acara BBH


P.Brandan-Metrolangkat.com


Sejarah Brandan Bumi Hangus (BBH) merupakan tonggak sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan kekuasan Kolonial Belanda yang ingin menguasai kilang minyak Indonesia di kota Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumut.

Peristiwa sejarah ini terjadi pada 72 tahun silam, tepatnya pada tanggal 13 Agustus 1947, dimana kilang minyak Indonesia ini di bakar para pejuang beserta rakyat, yang tak ingin kilang minyak ini jatuh dan di kuasai pihak Belanda.

Berdasarkan Perda Kabupaten Langkat Nomor 5 Tahun 1995, peristiwa Brandan Bumi Hangus ini di peringati setiap tahunnya dan membawa dampak positif bagi generasi muda dan masyarakat, sehingga lebih mengenal sejarah dan memahami arti sejarah peristiwa Brandan Bumi Hangus (BBH).

Namun, ada yang berbeda dalam peringatan BBH tahun  2019 ini, dimana kemeriahan serta teriakan "MERDEKA" Allahu Akbar dan dentuman suara ledakan yang menggambarkan kejadian pembakaran kilang minyak sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah Kolonial Belanda melalui pementasan drama kolosal BBH, dan yel-yel serta nyanyian lagu perjuangan yang dinyanyikan para peserta napak tilas yang menggambarkan masyarakat Pangkalan Brandan mengugsi pada saat itu, sudah tidak terdengar lagi. Sebab ditahun ini kegiatan itu di tiadakan.




Hal ini tentunya membuat masyarakat Pangkalan Brandan dan sekitarnya merasa sangat kecewa. Seperti yang diungkapkan oleh Sumiati (46) warga Pangkalan Brandan. Dirinya mengatakan, sejak pagi hari dirinya bersama kedua anaknya sudah datang ke lapangan Sepak Bola Petrolia Pangkalan Brandan, namun dirinya merasa kecewa karena puncak acara pementasan drama kolosal BBH tidak ada.

"Sebagai warga Pangkalan Brandan, tentunya kita sangat kecewa. Even sejarah sebesar ini di peringati hanya ala kadarnya saja. Ada apa ini?! Peristiwa besar dan peristiwa Nasional sebagai tonggak sejarah perjuangan Bangsa dalam mempertahankan Kemerdekaan dari penjajah, tentunya Pemerintah harus lebih fokus bukan hanya sekedar memperingati dengan acara seremonial saja, tetapi lebih dari itu," ucap Sumiati.

Hal senada juga di ungkapkan Jamal (36) warga Tanjung Pura, dimana dirinya datang bersama keluarga hanya ingin melihat Peringatan Brandan Bumi Hangus.

"Ini sejarah Bangsa Indonesia yang tidak terlupakan. Setiap tahun saya kemari dengan keluarga untuk melihat acara puncak pementasan drama BBH, ternyata tahun ini tidak ada," ucap Jamal dengan nada kesal sembari mengakui jika kakeknya seorang pejuang rakyat yang gugur dalam peristiwa BBH.




Menyikapi hal ini, Azhar Kasim, seorang tokoh masyarakat Pangkalan Brandan, angkat bicara. Dirinya mengatakan, Dalam memperingati hari BBH, Pemkab Langkat harus lebih berani me-evaluasi kegiatan di masa yang akan datang agar lebih fokus kepada pembinaan dan pendidikan, bukan hanya sekedar kegiatan Seremonial semata.

Menurut Pria yang juga merupakan seorang Aktivis lingkungan ini menambahkan, Lomba baca puisi, lagu Brandan Bumi Hangus, Napak Tilas serta Pawai yang diwarnai dengan penampilan Marching Band, semua perlu diskusi panjang. Apakah kegiatan ini layak untuk diteruskan? Apakah membawa dampak positif dan perlu di kembangkan? Ditambah kegiatan monoton pada acara puncak yang setiap tahunnya itu-itu saja.

Untuk itu, lanjutnya Azhar Kasim, Pemkab Langkat sebagai penanggung jawab pelaksanaan Perda No 5, harus bisa mempertanggungjawabkannya.

"Kita sebagai anak Brandan, meminta tahun depannya tidak lagi seperti ini. Kita minta lebih baik, lebih maju dan lebih modern. Karena sesunggungnya Perda itu adalah Perda Kabupaten Langkat yang terdiri dari 23 Kecamatan.

Lebih lanjut dikatakannya, Pangkalan Brandan memiliki andil besar dalam membangun Kabupaten Langkat dan membangun Provinsi Sumatera Utara serta membangun Republik Indonesia.

"Untuk itu, jangan abaikan Kotaku yang telah berbuat untuk Republik ini, jangan pernah lupakan sejarah," ucap Azhar dengan nada kesal. (Bud)
close