Iklan

Kecelakaan Kerja Kembali Terjadi di PLTU Pangkalan Susu

Wednesday, August 7, 2019, 7:36:00 PM WIB Last Updated 2019-08-07T12:36:39Z



Koko korban kecelakaan PLTU saat dirawat dii RS Pertamina P.Brandan

P.Susu-Metrolangkat.com


Kecelakaan kerja kembali terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu unit 3 dan 4 berkapasitas 2 x 200 Mega Watt (MW) Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat-Sumut.

Kecelakaan terjadi Senin (5/8/19) sore sekitar pukul 16.00, di turbin IV pengilingan Batubara. Akibat kejadian ini, seorang tenaga kerja dari PT Jali Tua Outsourcing PT Sinohydro harus menjalani perawatan dan operasi jari tangan di Rumah Sakit Pertamina Pangkalan Brandan (RSPPB).

Informasi yang di rangkum Metro Langkat, kecelakan bermula saat para pekerja sedang memperbaiki Turbin IV penggilingan Batubara yang rusak, pada saat pengangkatan bearing menggunakan kotrek, tiba-tiba pengait kotrek terlepas. Akibatnya, bearing yang beratnya mencapai ratusan kilo menjadi tidak seimbang, miring dan bergoyang (mengayun) kesamping hingga mengenai tangan seorang pekerja.

Korban bernama Koko Handoko (23) warga Dusun II Batu Seratus Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, dimana dirinya saat ini sedang menjalani perawatan medis.

"Saat itu kami berempat sedang memperbaiki Turbin IV, ketika bearing diangkat dengan kotrek, pengait belthing kotrek meleset hingga mengayun kesamping," ucap Koko saat ditemui Metro Langkat, Selasa (6/8/19) malam di ruang Flamboyan A3 RSPPB.


Sementara itu, pihak PT Jali Tua melalui H Maksum selaku Direktur perusahaan, saat di konfirmasi wartawan membenarkan kejadian ini.

"Benar ada kecelakaan kerja mengakibatkan jari tangan salah seorang pekerja mengalami luka. Namun masalah ini sudah kita tangani dan korban sudah di rawat di Rumah Sakit," ucapnya.

Disinggung tentang Safety yang digunakan pekerja, dirinya menjawab jika tidak memakai Safety, maka mereka tidak boleh masuk (kerja).

"Tentu semua memakai safety,".tambah H Maksum.

Dilain pihak, peristiwa/kejadian kecelakan kerja di PLTU Pangkalan Susu tak luput dari perhatian warga. Bukan baru kali ini, namun sudah sering bahkan kecelakan kerja yang terjadi hingga menelan korban jiwa, baik pekerja lokal maupun pekerja asing.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, tepatnya Sabtu (15/5/19), saat pembuatan lantai dermaga(Trestle) pembangunan Jetty diareal PLTU 3 dan 4, seorang tenaga kerja harus tewas akibat tertimpa material bangunan yang roboh Bahkan bebarapa pekerja lainnya mengalami luka serius dan patah tulang hingga harus di rawat intensive di Rumah Sakit.

Menyikapi hal ini, Ramlan (39) Kordinator LSM Sidik Kasus mengatakan, sebenarnya alat pelindung diri dalam K3 (Keamanan,Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah alat terakhir guna mengurangi resiko kecelakaan. Pertanyaannya, apakah K3 yang di gunakan para pekerja PLTU P.Susu sudah standart SOP-nya?, yang perlu ditingkatkan adalah pengawasannya dalam penggunaan K3.

Lanjutnya, karena kewajiban memakai alat pelindung diri dalam bekerja sudah disepakati oleh Pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, yang tertulis dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Per.08/Men/VII/2010 tentang pelindung diri.

"Kesehatan dan keselamatan kerja harus menjadi prioritas pihak perusahaan dan pengusaha sebagai pemberi jasa tenaga kerja, bukan hanya sekedar memakai K3 namun harus lebih ditekankan dalam penggunaan dan pengawasannya di lapangan, akibat dari kelalaian ini sering menimbulkan kecelakaan yang berakibat fatal bahkan sampai menelan korban jiwa," ucap Ramlan.

Dirinya juga menambahkan, selain itu pihak perusahaan atau pemberi kerja harus melaporkan pekerjanya ke Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian, dan mendaftarkannya ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, sehingga apabila terjadi kecelakaan kerja, para pekerja mendapatkan perlindungan dari segi pembiayaan. (Bud)
Komentar

Tampilkan

Terkini

Nasional

+
close