Material Batu Bara PLTU Pangkalan Susu Cemari Lingkungan,Nelayan & Mangrove Terancam

Bongkar muat batu bara yang menyisakan limbah material. 



P. Susu-MetroLangkat.com

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sumatera Utara 2 Pangkalan Susu, di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Pangkalan Susu. Kabupaten Langkat, dibangun di atas areal seluas 105 Ha dengan daya 2 X 200 MW, saat ini pekerjaannya masih terus dilakukan. Rabu (16/10/19)

Namun, dari pembangunan PLTU yang digadang-gadang dapat memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera Utara ini,  masyarakat yang tinggal di sekitar Kecamatan Pangkalan Susu menjadi meradang. 

Pasalnya, aktifitas bongkar muat batu bara melalui jalur laut sebagai bahan baku utama PLTU, berpotensi mencemari lingkungan, dimana kapal tongkang yang mengangkut beratus-ratus ton batu bara diangkut tanpa penutup.

Bahkan, kapal tongkang pengangkut batu bara, yang melintas dan berlabuh (lego jangkar) juga dianggap sebagai biang kerusakan ekosistem hutan mangrove di kawasan PLTU, terutama kawasan hutan mangrove yang ada di sekitar paluh Paluh Lebei Akup, Kuala Sei Siur Kecamatan P.Susu.

Selain itu, saat bongkar muat dari tongkang ke dump truck, material batu bara berjatuhan kedalam laut, yang mana sisa abu dan material lainnya mengapung di atas permukaan air sehingga air laut disinyalir menjadi tercemar. 

"Bukan sekali tumpukan abu batu bara kita temui mengapung dipermukaan air saat melaut, bahkan tumpahan batu bara ini sangat mengganggu nelayan pesisir karena sering tersangkut di jaring nelayan, 

Banyaknya meterial batu bara yang berjatuhan kelaut saat diangkut dan bongkar muat, ini berpotensi terjadinya pecemaran lingkungan", ucap Pak Abu (67) salah seorang nelayan P.Susu kepada Metro Langkat,Rabu (16/10)

Akibat kejadian ini, warga yang tinggal di kecamatan Pangkalan Susu, bersama aktifis lingkungan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang perduli lingkungan sering melakukan aksi protes, namun keadaannya tidak berubah, aktifitas pengangkutan dan bongkar muat batu bara tetap dilakukan.

Masyarakat meminta Pemerintah melalui Dinas terkait harus jeli menyikapi hal ini, dan melakukan pengawasan secara intensif, karena selama ini abu dan material batubara berjatuhan kedalam laut, lama-kelamaan ini menjadi masalah besar,
Tampak apungan batu bara mencemari air

 Dimana air laut dapat tercemar dan terkontaminasi zat berat yang bersifat racun, yang dapat membunuh biota laut sehingga mengganggu dan merusak ekosistem disekitarnya.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup yang notabene melakukan pengawasan terhadap pencemaran lingkungan, Selasa (15/10/19) pagi, terlihat mengunjungi PLTU Tanjung Pasir Pangkalan Susu

Namun ketika beberapa wartawan ingin melakukan konfirmasi dan mengetahui dalam rangka apa kunjungan ini, tidak satupun orang Dinas Lingkungan Hidup yang berhasil ditemui. 

Malah, ketika wartawan ingin melakukan konfirmasi kepada Manager SDM PLTU Pangkalan Susu Arifin di kantornya PLTU Tanjung Pasir Pangkalan Susu, beliau tidak bisa ditemui

Melalui Bu Ayu selaku sekretaris diketahui jika Pak Arifin tidak berada di tempat karena lagi rapat, namun dirinya tidak menyebutkan lokasi rapatnya di mana

Saat ditanya dalam rangka apa kunjungan dinas Lingkungan Hidup (LH)  ke PLTU, dirinya juga tidak mengetahui, "Kita tidak tau kalau ada kunjungan Dinas LH kemari", ucapnya singkat seakan enggan memberikan keterangan kepada wartawan.

Menjelang siang, saat wartawan meninggalkan kantor PLTU Pangkalan Susu, mobil dinas Lingkungan Hidup (LH) berplat merah dengan nomor polisi BK 8646 P, masih terlihat terparkir di halaman parkir.

"Kita tidak melarang PLTU melakukan ativitas pengangkutan dan bongkar muat batu bara, namun pihak perusahaan harus melihat aspek dan dampak lingkungan dari kegiatan ini

Jangan gara-gara ini lingkungan dan ekosistem disekitar menjadi rusak dan tercemar, dan kerusakan itu sudah mulai dirasakan masyarakat, dengan berkurangnya hasil tangkapan nelayan", ucap Ismail (48) warga Pangkalan Susu, berharap dinas terkait melakukan pengawasan ketat terkait bongkar muat batubara di PLTU P. Susu. (Bud) 



Post a Comment

Previous Post Next Post