-->

Iklan

Dirusak Tanpa Ijin, Pemilik Kebun Lapor Ke Polisi

Selasa, 19 November 2019, 18.57.00 WIB Last Updated 2019-11-19T11:57:20Z



Herti menunjukkan ke petugas kepolisian lokasi tanaman yang di rusak

P. Brandan-Metrolangkat.com


Merasa tidak ada titik terang terkait pengrusakan lahan perkebunan, Herti Boru Simamora (40) seorang janda warga Dusun IX Desa Air Hitam, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Selasa (19/11/19) siang,  membuat laporan ke Polsek P. Brandan.

Dalam laporannya, Herti mengaku jika 7 batang pohon kelapa sawit dan 8 pohon kelapa yang berada di kebunnya di Dusun 7 Sendayan, Desa Securai Selatan, Kecamatan Babalan, dirusak dan ditumbangkan tanpa sepengetahuan dirinya.

"Saya tidak terima dengan pengrusakan kebun. Tanaman kelapa dan kelapa sawit saya di tumbangkan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, sementara di kebun inilah kami menggantungkan hidup untuk biaya keperluan sehari-hari," ucap Herti Boru Simamora kepada Metro Langkat saat ditemui di Polsek P. Brandan.




Pohon kelapa dan kelapa sawit milik Herti yang tumbang

Herti menjelaskan, lahannya di rusak alat berat Excavator dalam proyek Normalisasi saluran pembuang dan rehab bangunan pintu klep 2 unit, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Langkat, dengan nilai pagu Rp 400 juta, yang dikerjakan oleh CV Terbit Srita Indah.

Diketahui, proyek normalisasi parit ini melintas didepan kebun miliknya, namun tanpa kordinasi dan pemberitahuan sebelumnya, Rabu (6/11/19) alat berat langsung menumbangkan beberapa batang pohon kelapa dan kelapa sawit yang berada di kebunnya.

Guna mencari titik terang dan pertanggungjawaban, Herti melaporkan kejadian ini ke Kepala Desa Securai Selatan. Namun saat itu Kades setempat sedang tidak berada di tempat. Kemudian dirinya berusaha menemui Kepala Dusun setempat untuk mengadukan kerugian yang dialaminya.

Namun saat itu, Kadus mengatakan jika penumbangan tanaman di sepanjang jalur normalisasi tersebut atas persetujuan warga, dan akan digunakan untuk jalan lintasan Jetor.

Merasa jawaban yang diterima tidak masuk akal, Herti juga berupaya melakukan mediasi dengan pihak Desa dan Kecamatan, dimana pertemuan ini langsung di hadiri Camat Babalan Yafizham Parinduri.S.Sos. Namun usaha ini juga sia-sia, dimana permintaan dirinya (Herti) untuk mengganti tanaman yang di rusak tidak membuahkan hasil.

"Kita sudah beritikad baik menunggu jawaban mereka, namun hingga 2 minggu tidak ada jawaban dari pihak Desa, Kecamatan dan pihak pelaksana proyek, malah saya seperti di intimidasi. Saya sudah dirugikan dan capek mengurusi ini, biarlah hukum yang berbicara," ucap Herti berharap hukum dapat berlaku adil terhadap dirinya. (Bud)
Komentar

Tampilkan

Terkini

Nasional

+