Iklan

Rabu, 26 Februari 2020, 10.11.00 WIB
Last Updated 2020-02-26T03:11:26Z
Berita Hari Ini

Polisi Terkesan Menutupi, Keluarga Korban Tower Terima Santunan Berpariasi

Berita Viral

Ayah dan istri Vijai saat ditemui wartawan. 

Langkat,Metrolangkat.com

Paska tumbangnya tower di Dusun III, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Wampu pada Kamis (20/2) lalu, yang menewaskan sebanyak 3 orang pekerja, hingga kini masih menjadi misteri dan menjadi kenangan yang pahit di ingatan keluarga korban.

Bagaimana tidak, hingga kini keluarga korban belum mengetahui siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang harus disalahkan, dalam peristiwa robohnya tower yang sedang dikerjakan ketiga korban tersebut.

Diketahui ketiga korban yakni, M Agus (25) warga Desa Payaperupuk, Kecamatan Tanjung Pura, Linggom (25) warga Desa Air Hitam, Kecamatan Tanjung Pura, Vijai (27) warga Desa Air Hitam, Kecamatan Tanjung Pura.

Salah satunya menurut pengakuan keluarga korban kepada awak media di kediamannya, bahwa selama ini mereka bekerja memasang tower sering mendapatkan gaji yang gak setimpal dengan resiko yang dihadapi.

Nazratul Munah (24) istri dari almarhum Vijai mengatakan, bahwa suaminya bekerja sebagai pemasang tower sudah bertahun-tahun, tak jarang juga sering ditipu oleh kontraktor mengenai upah yang di terimanya. Bahkan dulu almarhum suaminya pernah bekerja diluar provinsi, tidak dibayarkan upahnya, sehingga harus menjual besi-besi sisa dari pemasangan tower untuk bisa pulang ke kampung halaman.

"Sebenarnya saya gak mau almarhum bekerja memasang tower karena sangat beresiko sekali, tapi ya mau bagaimana lagi la gak ada kerjaan lain bang." Cetus Nazratul, dengan raut wajah sedih dan tatapan kosongnya.

Sambut Ismail (67) yang tak lain ayah dari almarhum Vijai, dirinya menjelaskan kepada Metrolangkat.com bahwa semasa anaknya lajang hingga menikah dan dikarunia satu orang putri tidak pernah mendapatkan jaminan BPJS Ketenagakerjaan.

Dirinya juga menjelaskan bahwa santunan kematian anaknya jauh dari kata layak, dan hingga sekarang dirinya tidak tau yang memberikan santunan dan tidak bisa menghubungi lagi orang yang memberi santunan tersebut.

"Yang tidak mempunyai anak diberi santunan 25 juta, anak saya yang mempunyai anak yang berusia 2 tahun, kenapa juga harus menerima dengan jumlah yang sama, bahkan dengar kabar yang lajang diberi 35 juta, ada apa sebenarnya ini," cetusnya.

Masih kata Ismail, walaupun keluarga kami sudah diberikan santunan, tapi bukan berarti pihak kepolisian menghentikan pemeriksaan dan menetapkan tersangka dalam kejadian ini, dirinya menduga ini kelalaian dari pihak perusahaan.

Sialnya, meski tiga nyawa sudah melayang dan banyaknya kesalahan dibalik pendirian tower tersebut, tapi pihak penyidik Kepolisian resort Langkat terkesan engan mengungkap kasus ini

Terbukti tertutupnya para petinggi Polres Langkat yang dimintai keterangan. Kasat Reskrim Polres Langkat yang sempat dikonfirmasi wartawan beberapa waktu lalu terkesan pelit dengan informasi. 

Begitu juga Kabg Humas Polres yang menjadi corong Kepolisian diwilayah ini, seakan koor Perwira penghubung itu juga engan berkomentar. (Zar/yong)