Iklan

Selasa, 07 April 2020, 19.24.00 WIB
Last Updated 2020-04-07T12:24:48Z
Berita Hari Ini

Perairan di Sekitar Jetty Conveyor PLTU Pangkalan Susu Terus Tercemar

Berita Viral
Teks foto: Material batubara berjatuhan yang mengubah air laut menjadi hitam, saat aktivitas unloading di Jetty Conveyor batubata ke PLTU Pangkalan Susu.

P Susu - metrolangkat.com

Meskipun pencemaran air laut akibat aktivitas Jetty Conveyor batubara di PLTU Tanjung Pasir, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langakt sudah berlangsung lama, namun belum ada terlihat uapaya serius dari perusahaan pembangkit listrik raksasa itu untuk berbenah. Dampaknya, keseimbangan ekosistem di sekitar lokasi tersebut dipastikan terganggu.

Material batubara yang berjatuhan dari Jetty Conveyor PLTU itu, tampak dengan jelas mengubah air laut menjadi hitam. Hal itu terlihat jelas, saat awak media bersama Team Invetigasi Srikandi Lestari melakukan pemantauan di sekitar alat penyuplai batubara dari dermaga ke pembangkit listrik, Senin (6/4) sekira jam 10.00 WIB.

Material batubara yang berjatuhan itu tentu saja dapat mengganggu kelangsungan hidup biota laut yang ada di dalamnya. "Kalau dah tercemar, ikan dan biota laut lainnya pasti akan mati. Gimana nasib nelayan yang menggantungkan hidupnya dari laut ini," sebut anggota Srikandi Lestari yang minta namanya dirahasiakan.

Anggota yayasan yang tergabung dalam GreenPeace Internasional ini menambahkan, seharusnya perusahaan raksasa sekelas PLTU tersebut memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Kondisi masyarakat di sekitar PLTU saat ini sangat terpuruk, karena dampak dari pencemaran limbah batubara di laut dan udara. "Bahkan, nelayan harus kehilangan hingga 50 % hasil mata pencaharian nya akibat pencemaran tersebut," sambungnya.

Sedangkan masyarakat ring 1 sangat menderita akibat menghirup sisa abu pembakaran yang dibuang ke udara Pangkalan Susu. Padahal masyarakat menginginkan udara yang bersih dan Air yang jernih untuk memperoleh ikan-ikan yang banyak. "Miris kali kan melihat laut kita tercemar seperti ini," lanjutnya

Hal ini semakin diperburuk dengan wabah Covid-19 yang sedang melanda. Diharapkan, agar pemerintah segera memberikan perhatian serius kepada masyarakat pesisir Pangkalan Susu, agar pencemaran tidak terus terjadi. "Saat ini masyarakat sedang menderita dan membutuhkan uluran tangan, untuk segera meningkatkan kualitas hidup mereka baik dibidang ekonomi, kesejahteraan ataupun kesehatan," pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, seorang nelayan yang ikut dalam investigasi itu juga merasa sangat kesal dengan pencmaran air laut yang dilihatnya. "Kalau seperti ini, gimana ikan mau hidup. Sebelum tercemar, ikannya besar-besar disini. Sekarang, penghasilan pun dah turun drastis," keluhnya.

Terpisah, Humas PLTU Pangkalan Susu Miduk Hutasoit saat dikonfirmasi via pesan WhatsAppnya, Selasa (7/4) sore mengatakan, bahwa pihak PLTU sudah melakukan perbaikan SOP terkait unloading (bongkar) di Jetty Conveyor. "Seharusnya, sudah tidak ada lagi tumpahan batubara di laut," pungkasnya. (Ahmad)