-->

Iklan

103.000, Jiwa Warga Langkat Miskin. 392.000, Lagi Hampir Menyusul

Senin, 18 Mei 2020, 19.17.00 WIB Last Updated 2020-05-18T12:29:23Z

Langkat-Metrolangkat.com

Bumi dan alam Langkat sungguhlah kaya dan penuh pesona. Diatas pohon sawit, di bawah ranjang sarat dengan minyak dan gas. Belum lagi dengan kekayaan dilaut, amboi luar biasalah.

Sayangnya anugerah Illahi belum sepenuhnya mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat di Tanah Bertuah ini. Masih banyak yang dibelit kemiskinan bahkan jauh dibawah kemiskinan.

Simak tiga warga Desa Perlis Kecamatan Bersndan Barat ini. Muhammad Nuh, 40 tahun, Ade, 36 tahun, dan Syamsul, boleh dibilang hidup di alam serba sulit.

Ketiganya sudah letih bertahun-tahun jadi kuli di kapal pencari ikan. Meski berlayar berhari-hari, penghasilan minim, bahkan tak jarang pulang dengan hampa belaka.

Kondisi inilah membuat ketiganya mencoba merubah nasib dengan menjadi pengayuh sampan untuk membawa penumpang dari Pangkalan Berandan menyusuri Sungai Perlis menuju desa nelayan di sekitarnya Kelantan dan Perlis.

Meski demikian nasib tetap saja terpuruk, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Bedanya kerja di kapal pencari ikan capeknya minta ampun, sebagai pengayuh sampan mereka merasa bebas tak ada yang memerintah.

Makanya meskipun penghasilan rata-rata dibawah sejuta sebulan mereka lebih nyaman.Padahal dengan penghasilan antara Rp vgak 800.000 hingga Rp 900.000, per bulan itu sudah bukan lagi miskin, tapi dibawah miskin lagi.

Menurut Kasi Pendataan dan Kependuduk BPS Langkat, seseorang yang mengkhasilkan dibawah Rp 392.050, per bulannya, termasuk miskin.

Bayangkan dengan Muhamnad Nuh. Dengan seorang isteri dan tiga anak, seharusnya dia berpenghasilan Rp 392.050 di kali 5, yakni sekitar Rp 2 juta per bulan.

Namun Nuh mengaku tak sampai sejuta sebulan untuk diserahkan kepada isterinya. Itulah semua untuk biaya kebutuhan sehari -hari, termasuk biaya dua anaknya yang masih sekolah di SD dan SMP.

Seperti halnya pengakuan Syamsul dan Ade, kadang mereka tak makan seharian. Kalauh mengaku terpaksa minta bantuan mertua.

Menurut Ade dan Syamsyul, bagaimanakah tak serba kekurangan. Sebagai pengayuh sampan rata-rata mereka berpenghasilan Rp 50.000, perhari.

Setelah dipotong uang sewa sampan Rp 10.000, pet hari dan beli minuman di warung, tinggallah Rp 30.000, dibawa ke rumah.

Menurut Syamsul, Ade, dan Nuh, jelas kurang untuk biaya rumah tangga. Untuk menambal kekurangan itu, isteri Nuh berjualan kecil-kecilan, sementara isteri Ade dan Syamsul tak punya modal untuk berjualan.

Menurut Kades Perlis, setidaknya ada 200 KK yang masih terjerat kemiskinan di desanya.

Gambaran yang sama juga terjadi di Desa Securai Selatan. Setidaknya ada 200 KK yang petani miskin yang jadi Buruh Harian Lepas di lahan pertanian.

Sedangkan peternak ikan juga banyak yang berubah profesi menjadi buruh di perkebunan atau pabrik disekitarnya.

Gambaran ini diucapkan oleh Kades Securai Selatan Effendi Simangunsong. Kata pak Kades, tak orang di desanya yang mau miskin.
Tapi modal dan kesempatan untuk berubah itu yang sulit.

Sebenarnya pak kades sudah menyiapkan lahan pertanian di desanya seluas 400 hektar yang bisa diolah oleh para buruh harian lepas ini dengan cara hak pskai. Tapi kata Kades, hingga kini belum ada restu dari Pemkab Langkat.

Begitu juga dengan para peternak ikan ini. Mereka ini semua sudah punya kolam ikan, tapi tak kuat modal untuk beli bibitnya.

Kades Effendi lalu menyurati Pemkab Langkat melalui dinas terkait agar diberikan bantuan bibit ikannya. Itupun sampai sekarang belum sda.

Melihat kondisi ini boleh jadi seperti inilah gambaran orang miskin di tanah bertuah ini ang menurut BPS
Langkat angkanya mencapai 103.000. jiwa lebih dan 392.000, lebih hampir miskin. (Reporter Wahyuzar/Angga)
Komentar

Tampilkan

Terkini

Nasional

+