Iklan

Senin, 13 Juli 2020, 18.28.00 WIB
Last Updated 2020-07-13T11:28:37Z
Hukum dan kriminal

Terkait Penembakan Satria Mandala, Dua Saksi Diperiksa Gakkum Poldasu

Berita Viral

Rosila didampingi kuasa hukumnya Romy A Tampubolon di Gakkum Poldasu

Poldasu - Metrolangkat.com

Terkait penembakan Satria Mandala (30) warga Jalan Sumatera No 17 Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat oleh oknum Polisi Polres Langkat pada Februari 2020 silam, dua saksi dari korban diperiksa petugas Penegakan Hukum (Gakkum) Poldasu di Ruang Riksa II, Senin (13/7) sekita jam 12.30 WIB.

Pemeriksaan kedua saksi tersebut merupakan tindak lanjut dari laporan orang tua korban, Roslila Lubis terkait dugaan penyiksaan yang dialami anaknya ke Subbagyanduan Propam Poldasu dengan nomor laporan LP/43/VII/2020/Propam, tanggal 8 Juli 2020.

Dihadapan penyidik, M Taufik (60) dan M Darmawan Syahputra (42) mengatakan, saat mereka melihat dan menyaksikan penangkapan Satria Mandala, korban masih dalam keadaan sehat dan tanpa ada cacat sedikitpun.

"Kami dimintai keterangan terkait penembakan yang dialami Satria Mandala. Tanggal 1 dan 2 Februari korban masih dalam keadaan sehat, tanggal 3 kami dapat kabar korban sudah ditembak di kaki kanannya," ungkap Mawan dan Taufik kompak.

Tanggal 3 pagi sekira jam 08.00 WIB, kata Mawan, dirinya mendapat kabar via telepon bahwa kaki kanan korban ditembak. "Nangis dia (korban) waktu nelpon aku. Dia bilang, sakit kali kakinya ditembak. Berselang dua hari, aku lihat kakinya pincang dan sudah diperban," pungkas Mawan.

Romi A Tampubolon, selaku PH yang mendampingi perkara tersebut mengatakan, sejauh ini laporan kliennya direspon dengan cepat dan profesional oleh Bid Propam Poldasu. "Kami akan terus monitor kasus ini," terangnya.

Kepada Kapoldasu dan Kabid Propam, Romy berharap agar kasus tersebut bisa segera ditindaklanjuti dan dituntaskan. "Klien kita tidka terima atas penyiksaan itu, terlebih yang melakukannya adalah oknum Polisi," tegasnya.

Rencananya, dalam minggu ini, penyidik dari Gakkum Poldasu akan memeriksa Satria Mandala dan Billi Meirano di Rutan Tanjung Pura Langkat. "Paling lambat minggu depan korban akan diperiksa untuk dimintai keterangannya," pungkas Romy.

Dari sisi hukum pidana, lanjut Romy, perkara tersebut tidak duduk. Artinya, dirinya memohon kepada JPU dan Hakim agar lebih objektif dan jeli memandang perkara ini. "Perkara ini terkesan dipaksakan, hanya atas dasar pengakuan terdakwa dan karena alat bukti yang diada-adakan," pungkasnya.

Sebelumnya, Tak terima anaknya disiksa dan ditembak oknum Polisi, Ketua PC Himpunan Putra-putri Keluarga Angkatan Darat (HIPAKAD) Kabupaten Langkat Roslila Lubis (50), melaporkan ulah oknum yang telah menyebabkan anaknya cacat permanen tersebut ke Bidang Propam Poldasu, Rabu (8/7) sekira jam 13.00 WIB.

Keluhan Roslila dan laporannya diterima langsung Kasubbag Propam Poldasu dan diproses oleh petugas piket SUBBAGYANDUAN Bidang Propam Poldasu dengan nomor Laporan LP/43/VII/2020/Propam, tanggal 8 Juli 2020.

Didampingi kuasa hukumnya Romi A Tampubolon SH, sambil meneteskan air mata, Roslila menjelaskan kronologis singkat mulai saat anaknya yang bernama Satria Mandala (30) diamankan hingga terjadinya penyiksaan dan penembakan terhadap anaknya.

"Anak saya ditangkap pada 1 Februari yang lalu tanpa ada surat penangkapan dan kondisinya waktu itu dalam keadaan sehat dan bugar. Keesokan harinya, anak saya juga masih dalam keadaan sehat," kenang Roslila dengan penuh haru.

Hari ke-3 ditahan, kata Roslila, dirinya tidak diperbolehkan petugas yang sedang piket untuk bertemu dengan anaknya. Namun, setelah hari ke-5, Roslila baru bisa menemui anaknya di ruang tahanan Polres Langkat dalam keadaan kakinya sudah ditembak.

"Sakit kali hati ini waktu melihat anak saya sudah dalam keadaan penuh lebam. Mulutnya pecah, wajahnya lebam, kakinya pincang dan diperban karena luka tembak yang dialaminya. Saya minta agar bapak Kapoldasu agar menindak tegas oknum polisi yang melakukan peganiayaan terhadap anak saya," tegasnya. (Zar)