-->

Iklan

Peringati HTN, Petani Kampung Durian Selemak Tolak Okupasi Lahan

Kamis, 24 September 2020, 20.28.00 WIB Last Updated 2020-09-24T13:28:46Z


Stabat.Metrolangkat.com

Teks foto: Masyarakat petani Kampung Durian Selemak saat menggelar aksi damai

Dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional (HTN), ratusan petani yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sumatera Utara, menggelar aksi damai di Kantor Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI) Kampung Durian Selemak, Desa Pertumbukan, Kecamatan Stabat, Kamis (24/9) siang.


Dalam aksi tersebut, ratusan petsni memajangkan spandu-spanduk yang bertuliskan tentang keluhan mereka yakni menolak rencana penggusuran ataupun okupasi lahan yang akan dilakukan pihak PTPN II di lahan yang sudah sejak puluhan tahun digarap oleh petani Kampung Durian Selemak.


Tak hanya itu, dengan kompak, para petani juga meminta pemerintah agar segera mengesahkan Ranperda Tentang Masyarakat Adat BPRPI Kampung Durian. "Hukum harus ditegakkan, jangan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Hentikan rencana okupasi lahan oleh PTPN II Kwala Madu, Rayon Kwala Bingai," pekik petani kompak.



Orator dalam aksi tersebut menyampaikan, agar aparat penegak hukum dapat menangkap dan mengadili para 'mafia' tanah yang akan menggusur tanah adat petani. "Tangkap dan tindak tegas siapapun yang akan menggusur tanah adat petani BPRPI Kampung Durian Selemak ini," tegas Ansyurdin.


Pada kesempatan yang sama, mantan kordinator lapangan (Korlap) BPRPI Kabupaten Langkat Muhammad Sabrun (55) mengatakan, para petani sudah sejak tahun 1997 silam memperjuangkan hak mereka dan lahan di Kampung Durian Selemak tersebut sudah sejak tanun 2007 silam mereka garap.


Luas lahannya, kata Sabrun, lebih kurang 117 Ha dan dikelola oleh 600 lebih kepala keluarga yang mendiami kampung itu. "Kalau lahan kami digusur, mau kemana kami pindah dan bagaimana kami menafkahi anak kami. Kalau mau menggusur lahan kami, tolong tunjukkan dulu dokumen yang mereka (PTPN II Kawal Madu) miliki," tegasnya.


Sementara itu, seorang petani yang bernama M Alamin (34) mengaku didatangi oleh pihak yang disebut-sebut utusan dari pihak perkebunan untuk menawarkan ganti kerugian atas tanah dan bangunan miliknya.


Pria yang sudah mendiami areal tersebut selama 15 tahun itu mengatakan, utusan tersebut menawarkan ganti kerugian sebesar Rp 20 juta untuk rumah yang berdiri diatas lahan seluas 800 meter persegi. "Denga tegas ku tolak tawaran mereka (pihak perkebunan) dan ku suruh mereka pergi," pungkasnya.


Aksi yang didominasi oleh kaum ibu tersebut berlangsung dengan aman dan kondusif meskipun tanpa pengawalan khusus dari pihak keamanan. Setelah menyampaikan aspirasinya, masyarakat petani membubarkan diri dengan tertib. (Fii)

Komentar

Tampilkan

Terkini

Nasional

+