Iklan

Minggu, 04 Oktober 2020, 17.30.00 WIB
Last Updated 2020-10-04T10:30:06Z
Kabar Desa

Korban Kekerasan Okupasi Gelar Tepung Tawar dan Do'a Bersama

Berita Viral

Tepung tawar korban kekerasan okupasi lahan. 


Secanggang-Metrolangkat.com


Para korban dugaan penganiayaan saat okupasi lahan pada 29 September 2020 lalu di Kampung Durian Selemak, Desa Pertumbukan, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, menggelar do'a bersama dan tepung tawar di kediaman Rusnan (51) di Dusun VI Jalan Mesjid, Desa Secanggang, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Minggu (4/10) sore.


Ketua Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sumatera Utara Harun Nuh memberikan kata sambutan sekaligus memberikan arahan kepada masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut. 

"Kami sangat mengapresiasi atas kinerja oknum Sat Intel Polres Langkat yang telah melindungi masyarakat saat okupasi tersebut sesusai fungsinya dalam mengayomi, melindungi dan mengayomi masyarakat," ujarnya, seraya memberi aplaus.


Harun menambahkan, tak seharusnya okupasi pada akhir September kemarin disertai degan kekerasan. Semestinya,, aparat keamanan dapat melindungi segenap masyarakat dari berbagai ancaman.


 "Dalam hal ini, seharusnya ditempuh jalur mediasi agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan," tegasnya.


Tepung tawar ini, kata Harun, menunjukkan bahwa masih ada oknum Polisi yang masih menjunjung tinggi semboyan Polri dalam Melindungi, Mengayomi dan Melayani masyarakat.


 "Diharapkan, Polri semakin melekat di hati masyarakat dalam setiap menjalankan tugas sesuai dengan semboyan Polri," pungkasnya.


Pada kesempatan yang sama, Ketua AMAN Sumut Ansyurdin juga sangat mengapresiasi oknum Polri yang dengan sigap melindungi masyarakat adat yang diintimidasi saat okupasi lahan pada akhir September 2020 yang lalu.


"Dalam okupasi kemarin, pihak PTPN II tak dapat menunjukkan dokumen HGU terkait tanah masyarakat adat yang diklaim mereka sebagai lahan kebun. 


Mereka (PTPN II) juga tak mau menerima tawaran masyarakat adat untuk diskusi. Kades, Camat dan instansi terkait gak ada hadir disana. 

Yang ada, malah kami mendapatkan intimidasi dan lahan langsung diokupasi," ungkap Ansyurdin.


Sementara, Rusnan yang mengalami patah tangan akibat penyiksaan yang dialaminya mengatakan, bahwa dirinya pada saat itu ingin membeli jeruk di kebun yang terletak di lokasi okupasi. Dirinya juga tak menduga bakal ada aksi brutal dari pihak keamanan kebun.


"Acara tepung tawar ini saya buat sebagai bentuk merasa syukur saya kepada Allah atas selamatnya dari tindakan brutal security dan oknum yang memakai seragam TNI. 


Beruntung, saya langsung dilindungi dan dievakuasi oleh seorang oknum Sat Intel Polres Langkat," beber Rusnan.


Saat masyarakat adat dan keamanan kebun mulai bergesekan, kata Rusnan, disitulah dirinya mulai mendapatkan intimidasi saat okupasi lahan berlangsung. 


"Gitu saya masuk ke parit kebun, disitulah pihak keamanan kebun semakin brutal menyiksa saya," lanjut Rusnan.


Rusnan berharap, agar pelaku penyiksaan terhadap dirinya untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. 


"Saya gak diterima diperlukan seperti itu. Kapanpun saya siap jika dibutuhkan untuk memberikan keterangan terkait masalah tersebut," pungkasnya. (Tim)