Iklan

Kamis, 10 Desember 2020, 10.10.00 WIB
Last Updated 2020-12-10T03:10:48Z
Berita Terkini

Konflik Warga Dengan Orang Hutan Di Bahorok Berahir

Berita Viral

 

Salah seekor orang utan yang kerab menganggu dan merusak tanaman warga dI Bahorok


Langkat - Metrolangkat-binjai.com


Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang diwakili oleh Ka Sie PTN V, Palber Turnip SP MH, akhirnya menyelesaikan penanganan konflik berupa masuknya beberapa "Orang Utan" di perkebunan warga yang berada di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat.


Menurut Palber, warga mulai resah dengan masuknya beberapa ekor Orang Utan ke Perkebunan warga. Sebab, masuknya hewan yang merupakan jenis Kera besar ini, merusak hasil kebun mereka.


Salah satu yang dimasuki oleh Orang Utan adalah kebun Durian milik Sembiring. Di lahan itu, buah Durian milik warga sekitar ini pun dijatuhkan oleh Orang Utan. 

Akibatnya, pemilik lahan merugi, karena hasil perkebunan itu merupakan sumber untuk menafkahi keluarganya.



Agar tidak terus merugi serta tidak melukai hewan yang hidup di hutan tropis ini, Sembiring pun berinisiatif untuk melaporkan kejadian yang menimpanya ke Balai Besar TNGL.


Usai menerima laporan dari masyarakat, tindakan pun langsung diambil oleh Balai Besar TNGL dengan mendatangi Perkebunan milik warga serta mengusir Orang Utan agar tidak merusak hasil kebun.


"Benar, atas permintaan pemilik lahan, kami dari PTN V Bahorok Balai Besar TNGL, langsung mendatangi lokasi yang dimaksud," ucap Palber Turnip SP MhH, Ka Sie PTN V Bahorok Balai Besar TNGL, Kamis (10/12).



Menurut Palber, penanganan konflik ini sudah dilakukan sejak Senin (7/12) kemarin. Hanya saja, warga kurang banyak yang mengetahui kegiatan itu karena tidak di Posting di Media Sosial atau pun di WAG (group Whatsapp).


"Kehadiran anggota TNGL dilokasi atas permintaan pemilik lahan yang korban duriannya dirontokin oleh Orang Utan. Akhirnya, kami hadir bersama tim Hocru OIC dan WRU/WCS," bebernya.


Sebagai Ka Sie PTN V Bahorok, Pilber Turnip pun menguraikan kronologis penanganan Orang Utan, agar tidak kembali ke lahan perkebunan milik warga sekitar.


"Pada hari Minggu (6/12) kemarin, sekira Pukul 18.30 Wib, dipimpin oleh Kepala Resor, akhirnya kami dan anggota lainnya meluncur ke lokasi untuk memastikan kejadian. 

Dari hasil yang kami lihat, memang didapati tanda tanda terjadinya konflik. Dihari yang sama juga, kami meminta pemilik lahan untuk melaporkan ke KPH dan BBKSDASU," ujar Palber Turnip SP MH.



Usai melihat lokasi yang dimaksud dan menemukan adanya tanda tanda konflik, lanjut Palber Turnip, keesokan harinya, Senin (7/12) tim TNGL bersama Hocru OIC, melakakukan pengusiran Orang Utan yang berjumlah 3 ekor.


Namun, lanjut Palber, keesokan harinya, tepatnya Selasa (8/12) sekira Pukul 10.00 Wib, pihaknya mendapat laporan jika 3 ekor Orang Utan yang sebelumnya sudah dievaluasi, kembali lagi ke perkebunan milik warga sekitar.


"Agar Orang Utan tidak kembali lagi, akhirnya kami memerintahkan Staff bersama HOCRU OIC dan WRU Wcs, untuk menggunakan peralatan berupa mercon dan jenduman.

 Kami juga perintahkan Tim untuk menginap di lokasi," beber Palber, seraya mengatakan jika kegiatan ini juga di support oleh Voulenteer SUMECO. 


Pengusiran intens dan bergerak hingga jauh ke dalam TNGL pun dilakukan oleh Tim. Hal itu karena pemilik lahan mengharapkan agar Orang Utan segera dievakuasi serta meantisipasi agar hewan berlengan panjang dan berbulu ini tidak kembali lagi ke Perkebunan milik masyarakat sekitar.


"Agar konflik tidak berulang, maka kami berencana melakukan Treatment di TKP, yaitu berupa penjarangan pohon karet dan pohon lain yang ada di TKP. 

Tujuannya agar canopynya tidak terhubung antar pohon Durian dengan pohon hutan dan terhadap areal yang pohonnya ditebang," ujar Palber Turnip.


Ia juga menegaskan, pasca kejadian, pihaknya bersama mitra OIC dan Voulenteer SUMECO, akan memberikan bantuan untuk penanaman tanaman semusim atau tahunan Non kayu di lokasi tersebut. Hal itu sebagai kompensasi atas pohon yang ditumbang.


"Untuk pekerjaan dan rencananya sedang running. Semoga masyarakat korban dapat terbantu dan satwa berupa Orang Utan, tidak terancam dan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik," demikian kata Palber diakhir pembicaraannya. (tra)