Iklan

Senin, 31 Mei 2021, 13.43.00 WIB
Last Updated 2021-05-31T06:43:23Z
Berita Terkini

Kasian Gadis Ini,Diperlakukan Tak Manusiawi Dirumah Majikan Yang Oknum Petugas

Berita Viral

 

Korban yang mengaku sering alami penyiksaan oleh majikan yang oknum Polisi.


Medan - Metrolangkat-binjai.com


Widia Wati (16) seorang wanita kelahiran Desa Pasiran, Kabupaten Langkat, mengaku diperlakukan tidak manusiawi dirumah tempat dirinya bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga, yaitu dirumah Oknum Polisi yang bertugas sebagai Kabag Ops.


Dalam video yang diterima redaksi, Senin (31/5) wanita ini menceritakan bahwa dirinya kerap dipukul oleh oknum Polisi tersebut beserta istrinya. 


"Saya dipukul memakai gantungan baju setiap hari sama ibu (istri oknum Polisi) itu," ungkap wanita asal Stabat yang sebelumnya bekerja dirumah Oknum Polisi di Kota Medan," ungkapnya. 


Tidak hanya itu, dalam video tersebut, ia juga mengaku pernah dikurung di dalam kamar, dan tidak diberi makan. "Besok paginya saya baru didatangi di kamar, lalu saya ditarik dan ditampari lagi," beber Widia Wati, seraya mengatakan, adapun oknum Polisi yang bertugas sebagai Kabag Ops itu berinisial N. 

Surat tanda laporan korban 


Karena diperlakukan tidak manusiawi, ia pun berusaha untuk kabur dari rumah tersebut. Namun karena dikunci, usaha itu pun tidak membuahkan hasil. 


"Saya 4 hari pernah dipukuli. Saya gak bisa kabur karena dikunci. Bahkan sebelumnya mata saya juga pernah di kasi Balsem oleh mereka," ujar wanita yang masih dibawah umur ini.


Sebagai Pembantu Rumah Tangga, Widia Wati juga menceritakan bahwa gajinya hanya dibayar Rp 3.000.000 (Tiga Juta Rupiah) selama dirinya bekerja disana. 



"Gaji saya ditransfer melalui rekening orangtua saya sebesar Rp 3 Juta. Sebelumnya dijanjikan Rp 1,3 Juta perbulannya," kata Widia Wati, sembari mengatakan bahwa awal mula perkenalan dirinya dengan oknum Polisi yang dimaksud melalui seseorang yang bernama Tumini, yang minta tolong carikan Pembantu sebanyak 2 orang. 


Akhirnya, lanjut Widia Wati, ia dihubungi oleh Tumini dan ditawari pekerjaan dirumah oknum Polisi tersebut.


"Saya akhirnya bekerja sama ipar saya. Bahkan ipar saya pun pernah dipukul oleh mereka," urai Widia Wati.


Rekaman pengakuan Widia Wati di video itu pun mendapat reaksi dari berbagai pihak. Salah satunya dari seorang netizen. Dalam akun Facebooknya @Anggun Sasmitha, yang diunggahnya pada tanggal 28 Mei, Pukul 17.30 Wib, ia menceritakan kronologis yang dialami oleh Widia Wati. 


"Seorang wanita asal stabat ini bekerja sebagai ART dikota medan dia bekerja dirumah Oknum Aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia,

menurut penjelasan wanita ini dan keluarganya yang jauh dari stabat, ART ini kelahiran tahun 2005. (Dibawah umur). Dan dia merupakan korban ke II (dua)," tulis Anggun Sasmitha.


Ia juga menceritakan, Korban pertama sudah melapor namun hingga hari ini laporannya tidak mendapatkan kepastian hukum. 

No LP korban I ( STTLP 1898/YAN.2.5/K/VIII/2020/ RESTABES MEDAN (STTLP Terlampir).


Lanjut Anggun yang diposting dalam akun Facebooknya, Perempuan/ART ini melarikan diri dari rumah majikannya dan diamankan oleh beberapa orang ibu-ibu warga sekitar.

Menurut keterangan beberapa warga sekitar, sudah membawa ART tersebut ke Polsek Sunggal dan sudah dilakukan VER/VISUM namun diarahkan untuk pergi ke Polrestabes Medan Polresta Medan.


"Sesampainya di Polrestabes Medan pada tanggal 28 Mei 2021 Pukul 00.06 WIB, personil SPKT yang sedang piket mengatakan tidak dapat diproses tanpa orangtua, KTP, dan KK.

Dan menyerahkan para warga yang membawa anak tersebut ke piket Reskrim Polrestabes Medan untuk konsultasi di Piket Reskrim Polrestabes Medan dan Piket reskrim juga mengatakan harus ada orangtuanya dan jika mau kepropam hari itu juga tidak bisa dikarenakan personil Propam tidak ada," ujarnya.


Lanjut Anggun, saat warga dan Pemuda Batak Bersatu Ranting Babura sudah membawa anak tersebut kekantor polisi untuk mendapatkan perlindungan sementara sebelum orangtua sianak datang membawa KTP KK Akta Lahir untuk melapor (seperti yang dikatakan bapak di SPKT dan Piket Reskrim), Apakah Polisi tidak dapat melakukan tindakan agar kasus ini terang dan jelas?


"Mohon kepada Bapak kapolda Polda sumut sumatra utara bapak Kapolrestabes Polrestabes Medan Polrestabes Medan agar mengambil tindakan atas kejadian ini.

Kemana lagi masyarakat harus mendapat perlindungan selama hidup didunia, kalau bukan kepada Aparat Keamanan di NKRI ini.?

padahal hal ini termasuk dalam KOMITMEN DAN PROGRAM PRIORITAS KAPOLRI BAPAK JENDERAL POL LISTYO SIGIT PRABOWO," demikian isi tulisan dalam akun Facebook yang diunggahnya. (Put/red)