Iklan

Rabu, 28 Juli 2021, 17.23.00 WIB
Last Updated 2021-07-28T10:23:29Z
Berita Hari Ini

Penambangan Galian C Ilegal Di Binjai Selatan Sebabkan Kekeringan

Berita Viral
Kondisi air yang keruh dan nyaris kering akibat beroperasi nya galian C Ilegal


Binjai - Metrolangkat-binjai.com


Maraknya penambangan Pasir dan Batu dari Galian C ilegal yang ada di Kecamatan Binjai Selatan, mengakibatkan aliran Sungai Namu Sira Sira yang berada di Desa Beguldah 2, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Binjai Selatan, menjadi berlumpur dan nyaris kering.


Akibatnya, ratusan Kepala Keluarga turut merasakan dampaknya, sehingga air yang dulunya dapat dipergunakan sebagai MCK, kini terlihat sangat jorok dan berlumpur.


Parahnya lagi, aktifitas Galian C ilegal ini menurut warga sudah berlangsung selama belasan tahun, sehingga aktifitas warga seperti bertani dan memelihara Ikan, menjadi terganggu.

"Sudah kurang lebih lima belas tahun galian C itu ada. Kami yang merasakan dampaknya. Bahkan tidak ada konpensasi sedikitpun dari mereka kepada warga. Yang ada warga diintimidasi kalau protes," ucap salah seorang warga Desa Beguldah 2 yang mengaku bernama Badai, saat dikonfirmasi awak media, Rabu (28/7) Siang.


Sebagai masyarakat setempat, Badai meminta kepada pengusaha Galian C untuk memikirkan nasib warga. "Warga tidak berani melawan, karena mereka preman," ujarnya, sembari dibenarkan oleh warga sekitar.


Kini, warga berharap agar Pemerintah atau Institusi terkait dapat menertibkan Galian C tersebut. "Karena yang ada galian C itu merusak ekosistem dan warga pun tidak bisa bertani. Kami juga ingin hidup dan mencari rejeki untuk kehidupan kami," ungkap warga lainnya yang mengaku bernama Yakub.


Menurut warga, aliran Sungai Namu Sira Sira yang merupakan air bersih dari pegunungan Leuser, merupakan urat nadi bagi masyarakat di Lima Kelurahan/Desa yang ada di Kecamatan Binjai Selatan. 


Lima Kelurahan/Desa yang dimaksud adalah Desa Beguldah 2, Kelurahan Tanah Merah, Tanggus, Tembis dan Bandar Bingai, yang merupakan lumbung pangan bagi masyarakat Kota Binjai.


Biasanya, air Sungai jernih yang mengalir merupakan sumber mata pencarian masyarakat, yakni sebagai modal utama untuk Perikanan dan ratusan hektar lahan Pertanian.


Namun, sejak beroperasinya Galian C atau Penambangan Sumber Daya Alam seperti Pasir, Batu dan Tanah Timbun, Sungai tersebut menjadi berlumpur dan nyaris kering.


Ironisnya, parit parit yang dibangun oleh Pemerintah Kota Binjai yang menurut warga memakan anggaran sekitar Rp 700.000.000 (Tujuh Ratus Juta) yang berfungsi untuk mengalirkan air ke lahan Pertanian masyarakat, kini sudah kering dan dipenuhi semak belukar.


"Sudah berulang kali aktifitas galian C itu dirazia oleh petugas Kepolisian dan Pemerintah Kota Binjai, tapi sampai sekarang kenapa masih terus beroperasi. Padahal kan itu ilegal," kata warga sekitar. (Bj-1)