Iklan

Minggu, 12 September 2021, 18.00.00 WIB
Last Updated 2021-09-12T11:00:26Z
Opini

H Anif Dalam Kenangan Sosok Hati Berbalut Kasih Sayang

Berita Viral

Oleh : H Affan Bey Hutasuhut


Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ungkapan bermakna sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali, seketika terucap dari lubuk hati yang dalam sesaat mendengar H Anif berpulang kepada sang khalik.


Allahyarham H Anif meninggalkan dunia yang fana ini pada Rabu (25/08). Semoga Allah mengampuni segala dosanya, dan memberkahinya dengan segala kebaikan, sebagaimana Allahyarham juga banyak menabur kebaikan semasa hidupnya.


Jejak kebaikan yang ditinggalkan ayah 9 anak ini begitu dalam dan syarat dengan makna kasih sayang. Sosok Allahyarham yang sudah saya kenal 40 tahun yang lalu ini bagaikan sosok hati yang berbalut kasih sayang.


Sebagai insan yang fana, tentu tak ada manusia yang sempurna. Namun sebagian besar sisa hidup H Anif lebih banyak manfaatnya bagi sesama insan. Sikap ini terbentuk oleh karakter yang ingin berbuat kebaikan tidak hanya kepada sesama insan, bahkan termasuk satwa.


Di komplek perumahan Cemara Asri Deli Serdang yang dimiliki Allayarham semasa hidup, ada sisa tanah beberapa hektar yang kalau dikembangkan menjadi lokasi perumahan bisa menghasilkan  puluhan miliaran. Tapi batin Bang Anif, begitu saya memanggilnya, tak sanggup melakukannya. Sebab di kawasan itu setiap hari banyak burung-burung berdatangan hinggap di pepohonan di sana.


Akhirnya lokasi  itu dibiarkan menjadi habitat burung tersebut bebas beterbangan ke sana-sini seraya mencari makanan. Dan hebatnya, kecintaan Bang Anif dengan satwa tersebut bahkan  diperlombakan oleh para forografer dan hasilnya pun sudah pula dibukukan. Saya tak tahu berapa biaya satwa yang ada dipenangkaran, di alam bebas, jika dirupiahkan setiap tahunnya oleh Bang Anif.


Semasa hidupnya, bila tak sibuk, Bang Anif, senang bercerita disertai jenaka yang kocak kepada temannya. Saya pernah beberapa kali diajak bang Anif  bertandang ke rumahnya untuk bercerita ringan diselingi kisah jenaka dan masalah sosial yang membutuhkan perhatian para dermawan. Pertemuan terakhir tahun 2012 lalu, setelah itu Bang Anif banyak berkunjung ke mancanegara.


Ketika itu, entah mengapa durasi perbincangan berlangsung lama, dari pukul 3 hingga pukul 6 petang. Setelah satu jam ngobrol, saya minta pamit karena masih ada kerjaaan waktu itu di Harian Sumut Pos Medan.


Bang Anif menyela,” nanti dulu, kau belum merasakan kue dari Itali yang baru saya bawa”. Setelah dihidangkan saya nikmati saja kue meski rasanya kurang pas di lidah (maklum biasa mencicipi kue buatan lokal). Untuk menjaga suasana tetap segar, tentu tak saya utarakan.


Satu jam kemudian, pukul lima saya kembali minta diri. Lagi-lagi Bang Anif menyela, “Sebentar, kau harus rasakan jambu air yang paling enak”. Kali ini benar, jambu air yang entah dibawa dari mana, benar rasanya manis.


Tanpa terasa, waktu bergulir hingga pukul 6 petang. Saya kembali minta pamit.  “Oh ya, saya juga mau ke Jakarta ini.  bagaimana rasa kue dan jambu airnya,” kata bang Anif. 

 

Dalam perjalanan menuju kantor Sumut Pos, saya baru menyadari luar biasa sikap Bang Anif untuk berupaya membuat tamu tidak buru-buru pulang.

SMS Tawarkan Rumah


Setelah pensiun dari dari Sumut Pos, saya jenuh tinggal di Medan dan ingin menetap di Galang Deli Serdang tak jauh dari tepi sungai ular. Karena tak sabar lambannya peminat untuk membeli, saya SMS Bang Anif. “Bang saya jenuh tinggal di Medan dan ingin tinggal di Galang yang lebih teduh, saya berharap abang mau membelinya”.


Tak menunggu lama, tiba- tiba Bang Anif yang tengah berada di luar negeri menelpon dengan  suara tinggi. “Fan, ngapain kau suruh abang beli rumahmu, kalau ada masalah kau datang ke rumah,” ujar Bang Anif nun jauh diseberang. Saya pun merasa risih dan saya jawab, iya bang.

Pernah Mau Dinikahkan


Dalam waktu senggangnya, Bang Anif kerap mengisi waktunya pergi berburu di kawasan Besitang Langkat. Saya pun sesekali  diajak bersama. Ketika itu Musa Rajekshah atau Ijeck (Wagub Sumut) dan adiknya Musa Idishah (Dodi) yang masih belajar di SD juga sering diajak serta bila liburan sekolah.


Ketika duduk bercerita berdua di beranda pesangrahannya di Desa Sekoci, datang dua gadis yang dimintai bantuan memasak. Tiba-tiba Bang Anif mengatakan,”Fan, dari pada kelamaan melajang, Abang nikahkan kau dengan wanita yang itu ya. Dia itu anak gadisnya Kades di sini,”.


“Akh, janganllah, Abang becanda saja,” kata saya menolak.

Bang Anif tersenyum dan menjawab terserah kau sajalah.

Jeli Melihat Peluang


Sebagai pengusaha, bang Anif bukan saja cekatan menggerakkan roda bisnisnya. Kakek dari 29 cucu 7 cicit ini pun jeli melihat peluang bisnis. Satu diantaranya sarang burung walet di Mandailing Natal.


Untuk mewujudkannya, Bang Anif ketika itu menemui Gubernur Sumut Raja Inal Siregar dan menyampaikan niatnya untuk membuka usaha sarang burung walet di Madina.


Mendengar itu Raja Inal malah berpetuah, gak usahlah, banyak yang rugi dan meninggalkannya.  


Namun Bang Anif bertahan dengan pilihannya dan tetap  mengajukan permohonan ke Pemprov Sumut memenuhi syarat administratif untuk diteruskan ke Kementerian Kehutanan.


Setelah permohonannya disetujui, Bang Anif diberikan izin oleh pusat untuk membuka usaha sarang walet tersebut. Naluri bisnis Bang Anif tepat, dari empat gua sarang walet di Madina ini, Bang Anif bukan hanya bisa memberikan keuntungan kepada group usahanya di PT ALAM, tapi juga membagikan sebagian rezekinya  kepada masyarakat sekitar.   


Naluri bisnis yang kuat dari Bang Anif ini jugalah hingga kini usaha PT ALAM beranak pinak mulai dari kelapa sawit, properti, sarang burung walet, pabrik kelapa sawit (PKS), SPBU, dan lainnya.

Yayasan Haji Anif


Meski sibuk dan sukses sebagai pengusaha, H Anif yang saya tahu kerap merenung apalagi gerangan yang bisa dibuatnya untuk kebaikan masyarakat.  


Dari renungan inilah  lahir gagasan untuk membantu umat, seperti membantu menambah  gaji guru di beberapa sekolah, bea siswa, menambah fasilitas gedung kuliah di USU, Gedung Serbaguna di Unimed, membarangkatkan warga kurang mampu ke tanah suci menjalankan umroh dan haji, dan lain sebagainya.


Lantaran banyaknya kegiatan sosial yang dilakukan oleh H Anif, maka didirikanlah Yayasan Haji Anif (YHA) pada tanggal 16 September 2005 dengan nama awal Yayasan Anugerah Pendidikan Indonesia (YAPI).


Dengan berdirinya yayasan ini kegiatan sosial H Anif makin berkembang. Sejauh ini ada lima Program Amal YHA, yakni pembersih masjid gratis, pendidikan formal, pendidikan non formal, pembangunan masjid, bansosmas.


Selama 40 tahun berteman dengan Bang Anif, tentu terlalu panjang kenangan yang patut saya ungkapkan. Tapi karena keterbatasan, saya cukupkan sampai di sini.


Saya yakin, sebenarnya Allahyarham tidak menginginkan itu. Baginya kebaikan adalah amal ibadah yang tersembunyi, cukup diketahui antara seorang hamba dengan sang khalik.


Namun jejak hidup Bang Anif perlu diangkat agar menjadi teladan bagi pengusaha lainnya dan masyarakat luas.


Selamat Jalan Bang, Alfatihah saya panjatkan, Insha Allah  segala amal kebaikan Allahyarham, bisa diteruskan oleh anak cucu dan seterusnya. Amin. (*)