Iklan

Sabtu, 06 November 2021, 15.07.00 WIB
Last Updated 2021-11-06T08:07:02Z
Berita Hari Ini

Satgas Pamrahwan Maluku Gelar Sosialisasi Cyberbulling Dikalangan Pelajar

Berita Viral

 

Maluku - Metrolangkat-binjai.com


Sebagai upaya pencegahan terhadap dampak negatif dari penggunaan media sosial di kalangan pelajar, Satgas Pamrahwan Yonarhanud 11/WBY bersama Kejaksaan Negeri Saparua, menggelar sosialisasi Cyberbullying bagi para pelajar SMA 12 Maluku Tengah, Sabtu (6/11).


Dikatakan Dansatgas Pamrahwan, Letkol (Arh) Rendra Febrandari Suparman, S.I.P, sosialisasi ini dilakukan tidak terlepas dari banyaknya permasalahan yang menimpa para pelajar di Indonesia, khususnya cyberbullying.



“Sebagaimana kita ketahui, cyberbullying merupakan bentuk intimidasi, penindasan, atau penghinaan melalui perangkat elektronik seperti smartphone,’’ ujarnya.


“Ini terjadi dikarenakan majunya perkembangan teknologi. Jika tidak dipahami, dikhawatirkan akan banyak disalahgunakan oleh masyarakat, khususnya kalangan pelajar,’’ sambung Letkol (Arh) Rendra.


Lebih lanjut dikatakan Perwira Menengah TNI yang juga menjabat sebagai Komandan Batalyon Arhamud 11/WBY ini, sosialisasi yang disampaikan oleh Kejaksaan Negeri Saparua, yaitu Bapak Patrick Soumokil, diikuti sekitar 90 orang pelajar SMA 12 Maluku Tengah.


“Materi yang disampaikan terfokus materi cyberbullying. Dipilih karena maraknya peredaran video video oleh pelajar di sekolah via aplikasi Whatsapp,” ucapnya.


Ia juga berharap, semoga melalui sosialisasi ini, para pelajar memiliki pemahaman serta berprilaku bijak dalam menggunakan teknologi. "Ini tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah, para guru dan orang tua semata, namun seluruh lapisan masyarakat juga harus berperan aktif didalamnya,’’ ungkap Letkol (Arh) Rendra Febrandari Suparman.


Sementara itu, Kejaksaan Negri Saparua yang diwakili oleh Patrick Soumokil, menjelaskan, bullying merupakan perlakuan agresif seseorang atau kelompok yang memiliki kekuasaan dan kekuatan lebih terhadap orang lain yang lebih lemah dengan cara menyakiti orang lain tersebut, baik secara verbal, fisik maupun psikis.


“Berdasarkan aturan hukum di Indonesia, tindakan bullying dapat diselesaikan secara mekanisme hukum. Hal tersebut dijamin dalam ketentuan UUD RI Pasal 28 B Ayat 2, UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, dan KUHP,”  urainya.


Hal negatif tersebut, lanjut Patrick, dapat menyebabkan korban cenderung mengisolasi diri, menghindari kontak fisik dengan lingkungan, cenderung melakukan tindakan negatif, bolos sekolah, ketakutan berlebihan, menyalahkan diri sendiri, kehilangan konsentrasi belajar, merasa menderita, kurang percaya diri, dan gejala stres sampai berfikir hidup tidak ada artinya,.


Dari sosialisasi ini, Kejaksaan Negeri Saparua mengajak para siswa untuk menimbulkan sikap empati dan simpati terhadap sesama, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, saling menghargai perbedaan pendapat, menghargai perbedaan agama, suku dan ras, serta aktif mencegah dan mengingatkan apabila terdapat tindakan bullying di sekitar Sekolah maupun masyarakat sebagai upaya pencegahan tindakan bullying. (Kus)